Kabupaten Maros, yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, dikenal memiliki bentang alam yang indah dan beragam. Daerah ini tidak hanya menawarkan keunikan karst Rammang-Rammang yang tersohor, tetapi juga menyimpan sejumlah gunung dan bukit yang menantang bagi para pencinta alam. Salah satu destinasi pendakian yang kini mulai menarik perhatian komunitas pendaki lokal adalah Bulu Monrolo. Gunung atau bukit ini terletak di wilayah Kecamatan Tompobulu dan menawarkan jalur pendakian yang masih alami, menanjak, serta menuntut fisik yang prima.
Pendakian menuju puncak Bulu Monrolo merupakan pengalaman yang menguji daya tahan, orientasi medan, serta kemampuan navigasi para pendaki. Jalurnya belum dikelola secara resmi, tidak memiliki pos-pos istirahat, dan hanya ditandai dengan tali rafia sebagai penanda jalur. Oleh sebab itu, pendakian ke Bulu Monrolo hanya direkomendasikan bagi mereka yang memiliki pengalaman dalam menjelajahi medan liar atau terbiasa dengan pendakian singkat (tektok) tanpa bermalam.
Tulisan ini akan menjabarkan secara kronologis dan sistematis mengenai rute pendakian Bulu Monrolo, mulai dari basecamp di rumah warga lokal hingga tiba di puncak. Uraian juga akan mencakup karakteristik jalur, kondisi medan, serta peringatan penting bagi pendaki yang berniat mencoba jalur ini.
Asal Mula dan Lokasi Rute Pendakian
Rute pendakian Bulu Monrolo dimulai dari Desa Bonto Somba, sebuah desa di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Desa ini dapat ditempuh dari pusat kota Maros dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam menggunakan kendaraan bermotor. Jalannya berkelok, menanjak, dan melewati kawasan pedesaan dengan udara yang sejuk serta pemandangan pegunungan di kejauhan.
Setibanya di Desa Bonto Somba, pendaki akan menemukan rumah seorang warga lokal, yang menjadi tempat singgah sekaligus basecamp pendakian. Di sinilah biasanya pendaki mempersiapkan segala perlengkapan, melakukan pengecekan peralatan, dan meminta izin sebelum memulai perjalanan ke puncak.
Meskipun belum ada pengelolaan resmi atau sistem perizinan dari pihak pemerintah setempat, etika pendakian mengharuskan setiap pendaki untuk tetap melapor kepada warga sekitar, baik untuk alasan keamanan maupun penghormatan terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Bulu Monrolo sendiri memiliki ketinggian sedang, sehingga cocok untuk kegiatan pendakian harian (tektok) tanpa perlu membawa peralatan camping.
Tahap Persiapan Pendakian
Sebelum pendakian dimulai, pendaki disarankan melakukan persiapan logistik dan fisik secara matang. Jalur ini tidak memiliki warung, sumber air yang jelas, atau pos istirahat di sepanjang rute. Maka dari itu, membawa air minum minimal 1,5 liter per orang, makanan ringan berenergi, serta pakaian cadangan adalah hal yang wajib.
Selain itu, karena jalur hanya ditandai dengan tali rafia berwarna mencolok yang dipasang di beberapa titik oleh penduduk lokal, maka pendaki sangat disarankan membawa kompas, GPS, atau aplikasi navigasi peta offline. Hal ini penting untuk menghindari kesalahan arah, sebab di beberapa bagian jalur terdapat percabangan yang bisa menyesatkan ke arah air terjun Salu, sebuah destinasi alam lain di kawasan tersebut.
Waktu terbaik untuk memulai pendakian adalah pagi hari antara pukul 06.00 hingga 08.00 WITA, agar pendaki dapat menyelesaikan perjalanan tektok sebelum sore tiba. Mengingat jalurnya menanjak tanpa henti dan tidak banyak tempat datar untuk beristirahat, pendakian sebaiknya dilakukan dengan ritme yang stabil dan tidak terburu-buru.
Dari Basecamp ke Sungai Kecil
Perjalanan dimulai dari rumah Warlok yang berfungsi sebagai basecamp. Dari sini, pendaki akan berjalan mengikuti jalan setapak yang melintasi perkampungan warga. Suasana di sekitar basecamp terasa asri dengan pepohonan rindang dan suara ayam berkokok di pagi hari. Warga sekitar dikenal ramah dan sering kali menyapa atau bahkan memberikan informasi singkat tentang kondisi jalur.
Sekitar 10 hingga 15 menit berjalan, pendaki akan sampai di sebuah sungai kecil. Sungai ini merupakan tanda awal masuk ke jalur pendakian sebenarnya. Airnya jernih, dan pada musim hujan debitnya bisa meningkat sehingga perlu sedikit kehati-hatian saat menyeberang. Di sinilah biasanya pendaki melakukan peregangan ringan sebelum melanjutkan perjalanan ke jalur yang lebih menanjak.
Batu-batu sungai licin oleh lumut, sehingga disarankan memakai sepatu trekking dengan grip kuat. Setelah menyeberangi sungai, jalur mulai menanjak perlahan, dan pepohonan besar mulai mendominasi pemandangan.
Menyusuri Perkampungan dan Memasuki Hutan
Setelah melintasi sungai, jalur akan melewati perkampungan kecil yang masih termasuk wilayah Bonto Somba. Rumah-rumah panggung khas Bugis-Makassar tampak berjajar di lereng, dengan kebun warga di sisi kanan kiri jalur. Pemandangan ini menjadi kesempatan terakhir bagi pendaki untuk menyapa kehidupan masyarakat lokal sebelum benar-benar memasuki hutan.
Sekitar 20 menit perjalanan dari sungai, pendaki akan mulai memasuki area hutan lebat. Suara jangkrik, burung, dan gemericik air di kejauhan menambah suasana alami pendakian. Jalur setapak di sini mulai menanjak dengan kemiringan yang cukup curam, mencapai 30–45 derajat di beberapa titik.
Tidak ada papan petunjuk atau pos perhentian. Satu-satunya penanda yang tersedia hanyalah tali rafia berwarna merah atau kuning yang diikat di batang pohon atau ranting. Tali ini menjadi panduan utama agar pendaki tidak tersesat.
Namun demikian, karena beberapa bagian tali sudah mulai usang atau tertutup dedaunan, pendaki harus teliti dan jeli memperhatikan setiap tanda. Disarankan agar satu anggota rombongan menjadi navigator yang fokus pada arah tali rafia, sementara yang lain mengatur ritme jalan.
Tanjakan Tanpa Henti
Memasuki kawasan hutan bagian tengah, jalur pendakian Bulu Monrolo mulai memperlihatkan karakteristik utamanya: tanjakan tanpa henti. Hampir tidak ada bonus atau jalur datar. Dari titik ini hingga mendekati puncak, pendaki akan menghadapi trek yang menanjak terus-menerus tanpa jeda berarti.
Kemiringan jalur semakin ekstrem di beberapa bagian, dan tanah yang lembab membuat langkah mudah tergelincir. Akibatnya, banyak pendaki harus berpegangan pada akar pohon atau batang kayu di sekitar jalur untuk menjaga keseimbangan. Vegetasi di sini didominasi oleh pohon hutan tropis dengan diameter besar serta semak belukar yang cukup rapat.
Beberapa titik jalur memiliki permukaan licin karena tertutup lumut atau sisa dedaunan basah, terutama setelah hujan. Pendaki perlu berhati-hati dan menjaga komunikasi antaranggota tim, mengingat tidak ada sinyal seluler yang stabil di area ini. Estimasi waktu dari awal pendakian hingga mencapai area pertengahan jalur adalah sekitar 40–50 menit tergantung kondisi fisik pendaki.
Area Percabangan Menuju Air Terjun Salu
Sekitar satu jam perjalanan dari basecamp, pendaki akan menemukan persimpangan tidak resmi di dalam hutan. Di sinilah jalur dapat menyesatkan pendaki yang kurang memperhatikan tanda tali rafia. Salah satu cabang jalur menurun menuju air terjun Salu, sedangkan jalur yang benar menuju puncak Bulu Monrolo adalah cabang yang tetap menanjak ke arah kiri.
Kesalahan arah di titik ini cukup sering terjadi, terutama bagi pendaki baru atau mereka yang melakukan pendakian tanpa pemandu lokal. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa tali rafia yang diikuti masih berada di jalur yang menanjak. Jika ragu, pendaki dapat menandai titik tersebut dengan pita tambahan agar tidak tersesat saat perjalanan turun.
Air terjun Salu sendiri merupakan tempat yang indah, namun tidak direkomendasikan untuk dikunjungi dalam pendakian tektok karena akan menambah waktu dan tenaga yang cukup signifikan.
Menjelang Puncak Bulu Monrolo
Setelah melewati area percabangan, jalur kembali menanjak dengan vegetasi yang mulai menipis. Suhu udara di sekitar semakin sejuk, dan semilir angin mulai terasa dari arah atas bukit. Di beberapa titik, pandangan terbuka sedikit dan memperlihatkan pemandangan perbukitan Maros yang berlapis-lapis di kejauhan.
Mendekati puncak, trek menjadi lebih sempit dan ditumbuhi rumput liar serta batuan kecil. Pendaki perlu menjaga keseimbangan dan tetap fokus agar tidak terpeleset. Meskipun perjalanan ke puncak terbilang singkat—sekitar 1,5 hingga 2 jam dari basecamp—namun tingkat kemiringan jalur membuat pendakian terasa jauh lebih menantang dari yang dibayangkan.
Saat mencapai puncak, rasa lelah seketika terbayar. Dari atas Bulu Monrolo, pendaki dapat menyaksikan hamparan perbukitan Tompobulu, lembah hijau yang luas, serta kabut tipis yang menggantung di kejauhan. Pada pagi atau sore hari, pemandangan matahari yang muncul atau tenggelam di balik awan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki yang berhasil mencapai puncak.
Perjalanan Turun
Turun dari puncak Bulu Monrolo memerlukan kehati-hatian ekstra. Jalur yang curam dan licin membuat risiko terpeleset lebih tinggi dibandingkan saat mendaki. Pendaki disarankan untuk menuruni jalur dengan langkah pendek dan memanfaatkan batang pohon sebagai pegangan alami.
Jika pendakian dimulai pada pagi hari, perjalanan turun biasanya dapat diselesaikan dalam waktu 45 hingga 60 menit, tergantung kondisi jalur dan stamina. Selama perjalanan turun, pendaki dapat memperhatikan kembali tali rafia sebagai panduan arah serta memastikan tidak salah jalan menuju air terjun Salu.
Setibanya kembali di basecamp, pendaki biasanya disambut hangat oleh warga sekitar. Bapak Dg. Sikki dan keluarganya sering menyediakan teh hangat atau air untuk mencuci kaki setelah pendakian. Inilah salah satu bentuk keramahan masyarakat pedesaan yang menjadi ciri khas kawasan Tompobulu.
Karakteristik Jalur Pendakian
- Kondisi Medan: Jalur didominasi oleh tanjakan konstan tanpa ada bonus atau area datar yang panjang. Medan berupa tanah liat, akar pohon, dan bebatuan kecil.
- Vegetasi: Didominasi oleh hutan tropis basah dengan semak rapat di beberapa titik.
- Sumber Air: Hanya terdapat di awal pendakian, tepatnya di sungai kecil dekat basecamp. Setelah itu, tidak ada sumber air alami di sepanjang jalur.
- Penanda Jalur: Hanya tali rafia yang diikat pada pohon. Tidak ada papan petunjuk atau pos resmi.
- Durasi Pendakian: Sekitar 1–2 jam dari basecamp ke puncak, tergantung kecepatan dan kondisi fisik pendaki.
- Jenis Pendakian: Cocok untuk pendakian tektok (naik-turun tanpa bermalam).
- Tingkat Kesulitan: Sedang hingga berat karena tanjakan terus-menerus dan minimnya penanda jalur.
Etika dan Keamanan Pendakian
Karena jalur pendakian Bulu Monrolo belum dibuka secara resmi untuk umum, maka pendaki dilarang untuk mendaki ke Bulu Monrolo sebelum dibuka secara resmi:
"PENDAKIAN GUNUNG MONROLO MASIH DITUTUP SAMPAI SAAT INI"
Potensi Pengembangan Jalur
Bulu Monrolo sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi pendakian dan ekowisata baru di Kabupaten Maros. Keindahan alamnya yang masih alami, jarak tempuh pendek, serta akses yang relatif mudah menjadikannya cocok untuk kegiatan wisata alam lokal. Namun, agar dapat dibuka secara resmi, diperlukan kerja sama antara pemerintah daerah, komunitas pencinta alam, dan masyarakat Desa Bonto Somba.
Beberapa langkah pengembangan yang dapat dilakukan antara lain:
- Pemasangan papan petunjuk jalur dan penanda resmi untuk memudahkan pendaki.
- Pelatihan pemandu lokal agar warga sekitar dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan wisata.
- Penataan area basecamp agar lebih representatif dan ramah pendaki.
- Pengelolaan sampah dan edukasi lingkungan bagi pengunjung.
Dengan pengelolaan yang baik, Bulu Monrolo berpotensi menjadi salah satu destinasi pendakian singkat populer di Maros, berdampingan dengan objek wisata lain seperti Rammang-Rammang dan Leang-Leang.
Pendakian Bulu Monrolo via Desa Bonto Somba merupakan pengalaman yang menantang sekaligus menyenangkan bagi para pencinta alam. Jalurnya menanjak terus tanpa bonus, tanpa pos, dan hanya ditandai tali rafia, namun itulah yang menjadi daya tarik tersendiri—sebuah bentuk petualangan murni di alam liar yang masih alami.
Meskipun belum dibuka secara resmi untuk umum, keindahan alam, kesegaran udara hutan, serta keramahan warga Bonto Somba menjadikan perjalanan ini layak dicoba bagi pendaki yang mengutamakan tantangan dan keaslian alam. Dengan persiapan matang, kesadaran lingkungan, serta kehati-hatian dalam bernavigasi, Bulu Monrolo dapat menjadi destinasi pendakian yang berkesan, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan wisata berbasis alam di Kabupaten Maros.
.jpg)


0 Komentar