Penutupan Jalur Pendakian Lembah Lohe dan Bulu Baria Sulsel masih Tutup Sejak 29 Desember 2025

 Keselamatan pengunjung merupakan prioritas utama dalam pengelolaan kawasan konservasi dan wisata alam. Seiring dengan kondisi cuaca yang tidak kondusif dan berpotensi membahayakan, pengelola kawasan mengambil langkah tegas dengan menutup sementara sejumlah jalur pendakian dan destinasi alam. Berdasarkan pengumuman resmi, jalur pendakian Gunung Bulu’ Baria, Lembah Lohe, serta kawasan Danau Tanralili dinyatakan ditutup sementara mulai tanggal 29 Desember 2025.

Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, terutama kondisi cuaca ekstrem yang dapat mengancam keselamatan para pendaki dan pengunjung. Penutupan dilakukan sebagai langkah preventif untuk menghindari risiko kecelakaan, tersesat, hipotermia, maupun bencana alam seperti longsor dan banjir bandang yang kerap terjadi saat cuaca buruk.

Kondisi Cuaca yang Tidak Mendukung Aktivitas Pendakian

Dalam beberapa waktu terakhir, intensitas hujan di wilayah pegunungan Sulawesi Selatan mengalami peningkatan signifikan. Curah hujan tinggi yang berlangsung dalam durasi lama menyebabkan jalur pendakian menjadi licin, berlumpur, dan rawan longsor. Selain itu, kabut tebal sering menyelimuti kawasan pegunungan, sehingga jarak pandang menjadi sangat terbatas dan menyulitkan navigasi.

Bagi pendaki, kondisi tersebut bukan hanya menghambat perjalanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. Jalur sempit yang licin dapat menyebabkan terpeleset, sementara suhu dingin dan angin kencang berpotensi memicu hipotermia, terutama bagi pendaki yang kurang persiapan. Oleh karena itu, penutupan jalur pendakian menjadi langkah paling rasional demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Jalur dan Kawasan yang Ditutup

Adapun jalur dan kawasan yang terdampak penutupan sementara ini meliputi:

  1. Jalur Pendakian Bulu’ Baria Gunung Bulu’ Baria dikenal sebagai salah satu destinasi favorit pendaki karena panorama alamnya yang indah dan jalur yang menantang. Namun, di musim hujan, jalur ini sangat rentan terhadap longsor dan genangan air.
  2. Lembah Lohe Lembah Lohe menawarkan keindahan alam berupa padang rumput, aliran sungai, dan lanskap pegunungan yang menawan. Sayangnya, area lembah cenderung rawan banjir saat hujan deras, sehingga membahayakan pengunjung yang berkemah atau melintas.
  3. Danau Tanralili Danau Tanralili merupakan salah satu ikon wisata alam Sulawesi Selatan yang sering dikunjungi pendaki dan wisatawan. Akses menuju danau melewati jalur pegunungan yang cukup ekstrem. Saat cuaca buruk, jalur ini menjadi sangat berisiko, baik bagi pendaki pemula maupun yang berpengalaman.

Menunggu Keputusan Resmi BBKSDA Sulawesi Selatan

Penutupan ini bersifat sementara dan akan dievaluasi secara berkala. Pengelola kawasan menyatakan bahwa pembukaan kembali jalur pendakian dan kawasan wisata tersebut akan dilakukan setelah menunggu keputusan resmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan.

BBKSDA memiliki peran penting dalam memastikan bahwa kawasan konservasi aman untuk dikunjungi serta tetap terjaga kelestariannya. Keputusan pembukaan kembali akan mempertimbangkan kondisi cuaca, stabilitas jalur, serta hasil pemantauan lapangan. Dengan demikian, ketika kawasan kembali dibuka, pengunjung dapat menikmati keindahan alam dengan rasa aman dan nyaman.

Imbauan bagi Pendaki dan Wisatawan

Sehubungan dengan penutupan ini, para pendaki dan wisatawan diimbau untuk:

  • Mematuhi pengumuman resmi dan tidak memaksakan diri memasuki kawasan yang ditutup.
  • Menunda rencana pendakian hingga kondisi cuaca membaik dan jalur dinyatakan aman.
  • Mencari alternatif destinasi wisata yang lebih aman dan sesuai dengan kondisi cuaca.
  • Selalu memantau informasi terbaru dari pihak pengelola dan BBKSDA terkait status pembukaan jalur.

Kepatuhan terhadap aturan bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu petugas dalam menjaga keselamatan bersama serta kelestarian alam.

Pentingnya Kesadaran Keselamatan di Alam Bebas

Kegiatan pendakian dan wisata alam memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan, terutama saat cuaca ekstrem. Banyak kasus kecelakaan di alam bebas terjadi akibat kurangnya kesadaran terhadap kondisi lingkungan dan peringatan resmi. Oleh karena itu, pengumuman penutupan jalur seperti ini seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian, bukan pembatasan semata.

Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas luar ruang. Alam dapat memberikan keindahan yang luar biasa, tetapi juga menyimpan potensi bahaya jika tidak dihormati. Dengan bersikap bijak dan mengikuti aturan, pendaki dan wisatawan turut berperan dalam menciptakan budaya wisata alam yang aman dan bertanggung jawab.

Penutupan sementara jalur pendakian Bulu’ Baria, Lembah Lohe, dan Danau Tanralili mulai 29 Desember 2025 merupakan langkah preventif yang sangat penting demi keselamatan pengunjung. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan kondisi cuaca yang tidak kondusif dan potensi risiko yang tinggi di kawasan tersebut.

Diharapkan seluruh pendaki dan wisatawan dapat memahami dan mematuhi kebijakan ini, serta menunggu informasi resmi terkait pembukaan kembali jalur pendakian. Dengan kerja sama antara pengelola, BBKSDA Sulawesi Selatan, dan masyarakat, keselamatan pengunjung dan kelestarian alam dapat tetap terjaga untuk dinikmati oleh generasi sekarang maupun mendatang.

Posting Komentar

0 Komentar