Pendakian Lintas Gunung Bawakaraeng – Puncak Talung – Lembah Ramma – Danau Slank – Danau Tanralili – Lembah Lohe (5 Hari 4 Malam)

Pendakian lintas Gunung Bawakaraeng via Lembah Ramma hingga Lembah Lohe dikenal sebagai salah satu jalur trekking paling lengkap dan menantang di Sulawesi Selatan. Jalur ini tidak hanya menawarkan puncak gunung dengan ketinggian hampir 3.000 mdpl, tetapi juga rangkaian lembah hijau, danau pegunungan, serta panorama alam yang masih sangat alami. Kombinasi antara tanjakan ekstrem, savana, danau vulkanik, dan jalur lintas alam menjadikan rute ini favorit bagi pendaki berpengalaman yang mencari eksplorasi menyeluruh.

Lintasan ini umumnya ditempuh dalam 5 hari 4 malam, dimulai dari Basecamp Buluballea (jalur Bawakaraeng) dan berakhir di Lembah Lohe. Berikut adalah gambaran lengkap rute, waktu tempuh, serta itinerary pendakian.

Gambaran Umum Rute Pendakian

Rute lintas ini dimulai dari Pos Registrasi Buluballea (±2.041 mdpl), kemudian menanjak menuju Puncak Bawakaraeng (±2.830 mdpl). Setelah itu perjalanan berlanjut ke Puncak Talung (±1.800 mdpl), turun ke Lembah Ramma (±1.609 mdpl), menyusuri Danau Slank (±1.376 mdpl) dan Danau Tanralili (±1.454 mdpl), lalu berakhir di Lembah Lohe (±1.917 mdpl).

Secara keseluruhan, jalur ini memadukan:

  • Jalur teknis dan berbatu di area puncak Bawakaraeng
  • Jalur punggungan dan savana menuju Talung
  • Lembah luas dan jalur landai di Ramma
  • Jalur hutan dan danau di Tanralili–Lohe

Pendaki disarankan memiliki fisik prima, pengalaman navigasi, serta manajemen logistik yang matang.

Itinerary Pendakian 5 Hari 4 Malam

Hari ke-1: Makassar – Pos Regis Buluballea – Pos 8

Perjalanan dimulai dari Kota Makassar pada pagi hari. Sekitar pukul 08.00 WITA, tim berangkat menuju Pos Registrasi Buluballea. Setelah proses registrasi dan pengecekan logistik, pendakian resmi dimulai sekitar pukul 13.00 WITA.

Jalur awal didominasi tanjakan hutan tropis dengan vegetasi rapat. Trek cukup melelahkan karena elevasi terus naik. Setelah ±5 jam pendakian, pendaki tiba di Pos 8, yang biasa digunakan sebagai lokasi camp. Malam pertama dihabiskan untuk istirahat dan aklimatisasi.

Durasi trekking: ±5 jam
Camping: Pos 8

Hari ke-2: Pos 8 – Puncak Bawakaraeng – Pos 10

Pendakian dimulai dini hari setelah sarapan ringan. Sekitar pukul 07.30 WITA, perjalanan menuju Puncak Bawakaraeng dimulai. Jalur menuju puncak cukup ekstrem, berbatu, dan terbuka, sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Sekitar pukul 10.00 WITA, pendaki tiba di puncak. Dari sini terlihat bentangan pegunungan Sulawesi Selatan, laut di kejauhan, dan jalur lintas yang akan ditempuh. Setelah eksplorasi dan istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan menuju area punggungan dan turun ke Pos 10.

Sore hari dimanfaatkan untuk menikmati panorama matahari terbenam sebelum bermalam di Pos 10.

Durasi trekking: ±6–7 jam
Camping: Pos 10

Hari ke-3: Pos 10 – Puncak Talung – Lembah Ramma

Pagi hari dimulai dengan sarapan sambil menikmati udara dingin pegunungan. Jalur hari ketiga relatif panjang namun sangat indah. Dari Pos 10, pendaki bergerak menuju Puncak Talung, dengan jalur punggungan yang menawarkan panorama savana luas.

Sekitar sore hari, pendaki tiba di Puncak Talung dan melanjutkan perjalanan turun menuju Lembah Ramma. Lembah ini terkenal dengan padang rumput luas, aliran sungai jernih, dan dinding pegunungan yang mengelilinginya. Malam ketiga dihabiskan di Lembah Ramma dengan suasana yang tenang dan romantis.

Durasi trekking: ±7–8 jam
Camping: Lembah Ramma

Hari ke-4: Lembah Ramma – Danau Slank – Danau Tanralili – Lembah Lohe

Hari keempat merupakan salah satu bagian paling menarik dari lintasan ini. Pagi hari di Lembah Ramma dimanfaatkan untuk menikmati pemandangan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Danau Slank. Danau kecil ini menjadi spot favorit untuk istirahat dan fotografi.

Dari Danau Slank, perjalanan dilanjutkan ke Danau Tanralili, salah satu danau gunung paling terkenal di Sulawesi Selatan. Area ini sering dijadikan lokasi camping karena pemandangannya yang ikonik. Setelah istirahat dan makan siang, pendaki bergerak menuju Lembah Lohe melalui jalur lintas yang relatif landai namun cukup panjang.

Durasi trekking: ±7 jam
Camping: Lembah Lohe

Hari ke-5: Lembah Lohe – Kembali ke Makassar

Hari terakhir dimulai dengan menikmati matahari terbit di Lembah Lohe. Setelah sarapan, pendaki melakukan eksplorasi ringan di sekitar danau dan lembah. Sekitar siang hari, perjalanan turun dan penjemputan dilakukan untuk kembali ke Makassar. Estimasi tiba di Makassar sekitar pukul 19.00 WITA.

Estimasi Waktu & Tips Pendakian

  • Total durasi trekking: ±4–6 jam per hari
  • Musim terbaik: Mei – September
  • Perizinan: Wajib registrasi di basecamp resmi dan pihak berwenang setempat
  • Logistik: Air cukup melimpah di Ramma, Tanralili, dan Lohe
  • Keamanan: Disarankan menggunakan guide lokal untuk jalur lintas

Pendakian lintas Gunung Bawakaraeng – Puncak Talung – Lembah Ramma – Danau Slank – Danau Tanralili – Lembah Lohe adalah perjalanan eksplorasi alam yang lengkap dan berkesan. Jalur ini menyuguhkan kombinasi tantangan fisik, keindahan lanskap, serta pengalaman berkemah di alam bebas yang sulit dilupakan. Bagi pendaki yang mencari petualangan sejati di Sulawesi Selatan, lintasan ini adalah pilihan yang layak masuk daftar impian.

Catatan Penting Perizinan Jalur Lintas

Perlu diketahui bahwa rute lintas Gunung Bawakaraeng – Puncak Talung – Lembah Ramma – Danau Slank – Danau Tanralili – Lembah Lohe bukan merupakan rute pendakian umum. Jalur ini adalah jalur lintas khusus yang tidak dibuka untuk pendakian reguler harian. Oleh karena itu, setiap tim pendaki WAJIB mengurus perizinan khusus kepada pihak berwenang dan pengelola kawasan jauh hari sebelum pelaksanaan lintas.

Perizinan umumnya melibatkan koordinasi dengan:

  • pengelola basecamp dan pos registrasi resmi,
  • aparat kemanan setempat,
  • serta pihak terkait yang mengawasi kawasan konservasi.

Pengurusan izin ini bertujuan untuk memastikan keselamatan pendaki, pengendalian aktivitas di kawasan sensitif, serta perlindungan lingkungan. Pendakian lintas tanpa izin resmi sangat tidak dianjurkan karena berisiko secara hukum, keselamatan, dan dapat berdampak pada keberlanjutan jalur pendakian itu sendiri. Disarankan pula menggunakan guide lokal atau tim berpengalaman yang memahami jalur lintas, titik rawan, serta prosedur darurat.

Posting Komentar

0 Komentar